PALEMBANG, MRS – Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Sumatera Selatan, Feby Herman Deru, mengajak masyarakat membangkitkan kembali kejayaan wastra khas Sumatera Selatan melalui pengembangan seni membatik sebagai bagian dari pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi kreatif daerah.

Komitmen tersebut disampaikan Feby Herman Deru saat membuka Pelatihan Seni Membatik Era Baru hasil kolaborasi Dekranasda Sumsel bersama Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Sumatera Selatan, Selasa (14/7/2026).
Menurut Feby, Sumatera Selatan memiliki kekayaan budaya yang harus terus dijaga dan dikembangkan, termasuk melalui batik yang menjadi identitas sejumlah daerah di Bumi Sriwijaya.
“Kita mengajak seluruh Ketua Dekranasda kabupaten dan kota di Sumatera Selatan untuk mengangkat kembali wastra Sumsel, salah satunya melalui batik. Kalaupun di daerahnya belum memiliki batik khas, jangan dipaksakan. Namun daerah yang sudah memiliki batik harus terus kita angkat dan kita lestarikan,” ujar Feby Herman Deru.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih mencintai produk-produk lokal sebagai bentuk dukungan nyata kepada para perajin di daerah.
“Saya akan terus mengupayakan agar Dekranasda Sumsel membeli, menggunakan, dan mencintai produk lokal. Inilah bentuk dukungan nyata kepada para perajin kita,” katanya.
Feby mengakui selama ini batik masih identik dengan Pulau Jawa. Karena itu, Dekranasda Sumsel terus berupaya memperkuat identitas batik Sumatera Selatan agar semakin dikenal masyarakat luas.
Menurutnya, membatik bukan pekerjaan yang mudah sehingga para peserta diminta memanfaatkan pelatihan tersebut dengan sungguh-sungguh serta belajar langsung kepada instruktur yang kompeten.
Ia menambahkan, program pelatihan tersebut merupakan kelanjutan dari berbagai kegiatan pemberdayaan yang sebelumnya telah dilakukan Dekranasda Sumsel, termasuk pelatihan pembuatan tas yang sukses digelar tahun lalu dan melibatkan peserta dari 17 kabupaten/kota.
“Yang terpenting bukan hanya selesai mengikuti pelatihan, tetapi bagaimana ilmu yang diperoleh bisa ditularkan kembali kepada masyarakat di daerah masing-masing. Berbagi ilmu yang bermanfaat adalah sebuah kebaikan,” tuturnya.
Melalui pelatihan tersebut, Dekranasda Sumsel berharap lahir lebih banyak perajin muda yang mampu mengembangkan batik khas Sumatera Selatan sehingga menjadi produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatera Selatan, Muhammad Al Fajri, menjelaskan pelatihan tersebut dirancang menggunakan konsep multiplier effect atau efek domino.
Sebanyak 115 peserta yang mengikuti pelatihan selama 14–15 Juli 2026 ditargetkan mampu menularkan keterampilan membatik kepada sedikitnya 10 orang di daerah masing-masing.
“Dengan konsep ini, ilmu yang diperoleh peserta akan terus berkembang sehingga semakin banyak masyarakat yang mampu membuat batik dan mengembangkan ekonomi kreatif di daerahnya,” jelas Al Fajri.
Melalui sinergi Dekranasda Sumsel dan Dispora Sumsel, pelatihan tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam melestarikan warisan budaya sekaligus mendorong tumbuhnya industri kreatif berbasis wastra lokal di Sumatera Selatan.












