Palembang, MRS – Kota Palembang mendadak panas—bukan karena matahari, tetapi arus aksi dari ribuan mahasiswa yang mengguncang kawasan DPRD Sumatera Selatan. Aksi ini digelar dalam lima gelombang demo berturut-turut yang membanjiri jalanan, dengan tuntutan tajam: pencopotan Kapolri, penolakan tunjangan fantastis DPR, serta seruan reformasi sistem keamanan dan legislatif negara. 1 September 2025
Gelombang Aksi: Dari Siang Hingga Sore
- Gelombang Pertama (~08.00 WIB) – Dipimpin oleh Masyarakat Miskin Kota Sumsel, sekitar 200 mahasiswa menggelar aksi awal di Simpang Lima, DPRD Sumsel.
- Gelombang Kedua (~11.00 WIB) – BEM Sumsel menyusul dengan sekitar 2.500 mahasiswa menyuarakan aspirasinya di depan gedung parlemen.
- Gelombang Ketiga (~13.00 WIB) – Mahasiswa dari Universitas PGRI Palembang turut bergabung, menyumbang sekitar 1.000 massa aksi.
- Gelombang Keempat – Aliansi Cipayung Plus Sumsel menggempur lokasi dengan pengeras suara, spanduk, dan mobil komando—massa mereka berjumlah sekitar 700 orang.
- Gelombang Kelima – Aliansi Mahasiswa Sumsel juga hadir di jam dan lokasi serupa dengan estimasi massa mencapai 1.820 orang.
4 Tuntutan Pusat dari Mahasiswa Sumsel
Aksi ini menyuarakan empat tuntutan utama:
- Mendesak Presiden mencopot Kapolri dan melakukan reformasi institusi Polri.
- Mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset.
- Menolakkan ruu KUHAP yang dianggap memiliki potensi tumpang tindih dan represif.
- Menolak keras kenaikan tunjangan anggota DPR RI.
Selain itu, terdapat sembilan tuntutan yang lebih luas, seperti penghapusan hak politik koruptor, pemotongan gaji DPR yang sering absen, hingga evaluasi kebijakan penerimaan MBG serta pembebasan massa aksi yang ditahan.

















