PALEMBANG, MRS – Langkah tak biasa ditunjukkan Wali Kota Palembang, Ratu Dewa. Ia memilih meninggalkan mobil dinas dan berangkat kerja menggunakan angkutan kota (angkot), sebagai bentuk nyata perubahan budaya kerja di lingkungan pemerintah.
Aksi tersebut dilakukan pada Selasa (7/4/2026) dan langsung menjadi sorotan. Bukan sekadar simbolis, langkah ini menjadi penegasan kebijakan baru: seluruh ASN Pemkot Palembang wajib menggunakan transportasi umum.
Kebijakan itu berlaku setiap Selasa pertama di awal bulan, dan menyasar sekitar 23 ribu ASN di lingkungan pemerintah kota.
“Setiap Selasa pertama di setiap bulan ASN wajib naik angkutan umum,” tegas Ratu Dewa.
Bukan Gimmick, Ini Gerakan Besar
Ratu Dewa menegaskan, kebijakan ini bukan sekadar aksi pencitraan. Tujuannya jelas: menekan kemacetan, menghemat BBM, dan mengubah pola pikir ASN agar lebih dekat dengan masyarakat.
Dengan ribuan pegawai yang biasanya menggunakan kendaraan pribadi, kebijakan ini diyakini mampu memberi dampak signifikan terhadap lalu lintas kota, terutama pada jam sibuk.
Tak hanya itu, penggunaan transportasi umum juga diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat untuk mulai beralih dari kendaraan pribadi.
Serap Aspirasi Langsung dari Warga
Menariknya, selama perjalanan menggunakan angkot, Ratu Dewa tidak hanya duduk sebagai penumpang. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk berdialog langsung dengan masyarakat.
Keluhan soal kenyamanan transportasi, aksesibilitas, hingga pelayanan publik diserap langsung tanpa sekat.
“Kita bisa langsung dengar keluhan masyarakat di lapangan,” ujarnya.
Efisiensi Hingga Gaya Hidup Baru
Kebijakan ini juga menjadi bagian dari langkah efisiensi besar-besaran Pemkot Palembang, termasuk pengurangan perjalanan dinas dan dorongan penggunaan transportasi ramah lingkungan.
Bahkan, sejumlah OPD mulai mendorong pegawai untuk bersepeda ke kantor sebagai alternatif sehat dan hemat energi.
Langkah berani ini pun dinilai sebagai upaya nyata membangun kota yang lebih tertib, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Kini publik menanti: apakah gerakan “ngangkot” ini benar-benar akan mengubah wajah transportasi Palembang, atau hanya menjadi tren sesaat?



















