PALEMBANG, MRS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul terdeteksinya lima titik api di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.

Peringatan tersebut disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sumsel, Dr. M. Iqbal Alisyahbana, S.STP., M.M., yang diwakili Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sumsel, Bobi Novian, S.E., M.Si., saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif Studio Pro 1 RRI Palembang dengan tema “Lima Titik Api Terdeteksi dari Udara, Seberapa Serius Ancaman Karhutla di Sumsel?”.
Dalam dialog tersebut, Bobi Novian menjelaskan bahwa kemunculan sejumlah titik api menjadi indikator awal yang harus diwaspadai, terutama memasuki periode musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko terjadinya karhutla.
Menurutnya, meskipun jumlah titik api yang terpantau masih relatif terbatas, langkah antisipasi harus dilakukan sejak dini agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas dan sulit dikendalikan.
“Deteksi dini merupakan bagian penting dalam upaya pencegahan. Ketika titik api mulai muncul, seluruh pihak harus meningkatkan kesiapsiagaan agar potensi karhutla dapat segera ditangani,” ujarnya.
BPBD Sumsel bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan kondisi lapangan melalui patroli darat maupun pemantauan udara guna memastikan setiap titik api dapat segera direspons.
Selain itu, BPBD juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan, serta masyarakat peduli api untuk mengoptimalkan upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla.
Bobi menegaskan bahwa peran masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan risiko kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran di wilayah masing-masing.
“Karhutla bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan, ekonomi, hingga aktivitas masyarakat. Karena itu pencegahan harus menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Melalui dialog interaktif tersebut, BPBD Sumsel berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya karhutla semakin meningkat sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan lebih efektif sejak dini.
BPBD Sumsel memastikan kesiapsiagaan personel, peralatan, serta sistem pemantauan terus ditingkatkan guna menghadapi potensi karhutla selama musim kemarau 2026.















