Belajar ke Yogyakarta, Teddy Meilwansyah Siapkan Revolusi Sampah di OKU: Dari Rumah Tangga Jadi Bernilai Ekonomi

banner 468x60

YOGYAKARTA, MRS – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) terus menunjukkan keseriusannya dalam mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan sampah. Tak ingin sampah hanya menjadi beban lingkungan, Bupati OKU H. Teddy Meilwansyah, S.STP., M.M., M.Pd menyiapkan konsep pengelolaan sampah terpadu yang mampu mengubah sampah menjadi sumber manfaat dan bernilai ekonomi bagi masyarakat.

banner 336x280

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kunjungan lapangan ke RT 05 Mangkuyudan, Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026). Dalam kunjungan itu, Teddy Meilwansyah mengajak para camat, lurah, dan ketua RT untuk melihat langsung sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang telah sukses diterapkan di kawasan tersebut.

Di kawasan Mangkuyudan, warga secara mandiri memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah tangga. Sampah organik diolah melalui lubang biopori yang dicampur molase sehingga proses penguraian berlangsung cepat tanpa menimbulkan bau. Hasilnya berupa pupuk kompos yang dipanen setiap tiga bulan dan dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.

Berbagai tanaman produktif seperti cabai, tomat, terong, dan sayuran lainnya tumbuh di halaman rumah maupun sepanjang lorong permukiman, sehingga tidak hanya mempercantik lingkungan tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan pangan warga.

Sementara itu, sampah plastik yang masih memiliki nilai ekonomi dikumpulkan melalui bank sampah untuk dijual kembali dan menghasilkan pendapatan tambahan bagi masyarakat.

“Alhamdulillah kita bisa melihat langsung proses pengolahan sampah di sini. Mungkin kita berpikir ini sederhana, tetapi justru hal-hal sederhana seperti inilah yang jika dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Teddy Meilwansyah.

Menurut Teddy, kunjungan tersebut bukan sekadar studi banding, melainkan langkah nyata untuk menyiapkan transformasi pengelolaan sampah di Kabupaten OKU. Ia meminta seluruh camat, lurah, dan ketua RT yang ikut dalam kunjungan agar memahami konsep tersebut dan menyesuaikannya dengan kondisi daerah masing-masing.

“Amati baik-baik inovasi ini. Kita tidak hanya meniru, tetapi harus mampu mengembangkan dan memodifikasinya agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat OKU,” tegasnya.

Sebagai langkah awal, Kecamatan Baturaja Timur ditetapkan sebagai lokasi proyek percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Jika berhasil, program tersebut akan diperluas ke seluruh wilayah Kabupaten OKU.

“Target kita jelas. Sampah tidak lagi menjadi masalah, tetapi menjadi sumber manfaat ekonomi dan lingkungan. Jika berhasil di Baturaja Timur, model ini akan kita terapkan di kecamatan lainnya,” katanya.

Keseriusan Pemkab OKU dalam menangani persoalan sampah juga terlihat dari langkah sebelumnya yang dilakukan Teddy Meilwansyah dengan mengunjungi fasilitas pengolahan sampah RDF Plant Jakarta. Kunjungan tersebut bertujuan mempelajari teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat diterapkan di masa mendatang.

Dengan menggabungkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di tingkat rumah tangga dan teknologi pengolahan modern di tingkat akhir, Pemkab OKU menargetkan terwujudnya sistem pengelolaan sampah terpadu dari hulu hingga hilir.

 

“Harapan kita ke depan, pengelolaan sampah di OKU dapat berjalan secara menyeluruh mulai dari rumah tangga hingga fasilitas pengolahan akhir. Dengan begitu persoalan sampah dapat teratasi sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan,” pungkas Teddy. (Hr)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *