PALEMBANG, MRS – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau 2026 dengan mengusulkan penambahan armada pemadaman udara untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah rawan.
Langkah tersebut dilakukan menyusul meningkatnya potensi kekeringan dan karhutla di sejumlah daerah yang selama ini menjadi titik rawan kebakaran saat musim kemarau.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan usulan penambahan empat unit helikopter water bombing telah diajukan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas penanganan karhutla.
Menurut Sudirman, kebutuhan ideal Sumsel dalam menghadapi ancaman karhutla mencapai dua unit helikopter patroli udara dan delapan unit helikopter water bombing guna mendukung operasi pemantauan serta pemadaman dari udara secara maksimal.
“Saat ini yang tersedia dan siaga di Sumsel sebanyak enam unit, terdiri dari dua helikopter patroli udara dan empat helikopter water bombing,” kata Sudirman, Selasa (16/6/2026).
Dengan kondisi tersebut, lanjutnya, Sumsel masih membutuhkan tambahan empat unit helikopter water bombing agar kemampuan respons terhadap kebakaran dapat lebih optimal, terutama saat memasuki periode puncak kemarau yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Usulan tersebut diajukan karena luasnya wilayah Sumsel yang memiliki kawasan gambut dan hutan rawan terbakar, sehingga diperlukan dukungan armada udara yang memadai untuk mempercepat proses pemadaman sekaligus mencegah meluasnya titik api.
Selain mengandalkan operasi udara, BPBD Sumsel bersama instansi terkait juga terus melakukan berbagai langkah mitigasi, mulai dari patroli terpadu, pemantauan hotspot, sosialisasi kepada masyarakat, hingga penguatan koordinasi lintas sektor dalam upaya pencegahan karhutla.
Pemerintah Provinsi Sumsel berharap dukungan tambahan armada dari BNPB dapat segera direalisasikan sehingga kesiapan menghadapi musim kemarau tahun ini semakin maksimal dan risiko bencana karhutla dapat ditekan sedini mungkin.
Sebelumnya, Sumsel menjadi salah satu provinsi yang secara rutin melakukan langkah antisipasi karhutla mengingat luasnya kawasan perkebunan, lahan gambut, dan hutan yang berpotensi mengalami kebakaran saat musim kemarau panjang. Dengan dukungan armada udara yang memadai, proses pemantauan dan pemadaman diharapkan dapat dilakukan lebih cepat, efektif, dan tepat sasaran.

















